Kerja Nyata untuk Menjayakan Indonesia

Tidak terasa bulan Agustus telah menghampiri kita. Karena keistimewaannya, banyak di sekeliling kita sangat antusias menyambut kehadirannya. Pemasangan umbul-umbul di sepanjang jalan dan bendera merah putih di setiap depan rumah warga,  berbagai kemeriahan lomba dan jalan santai diikuti anak-anak hingga orang dewasa pun turut mewarnai keceriaan dalam  menyambut kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke-71. Dan satu hal yang pasti tidak boleh terlewati adalah pelaksanaan upacara pengibaran bendera pusaka merah putih. Pada hakikatnya, semua ini bertujuan untuk mengenang perjuangan para pahlawan Indonesia yang telah gugur di medan perang demi mewujudkan satu kata, yaitu MERDEKA.

Mari kita flashback mengenang sekilas latar belakang sejarah panjang kita sebagai bangsa besar. Sebelum terbentuknya Republik Indonesia, kita dahulu memiliki banyak kerajaan di wilayah Nusantara. Di antara kerajaan tersebut, ada yang menjadi penguasa Asia Tenggara dan memiliki pengaruh yang besar, seperti dua kerajaan besar Sriwijaya pada abad ke-7 dan Majapahit pada abad ke-14. Akan tetapi, kejayaan kedua kerajaan besar itu tidak bertahan lama dan akhirnya runtuh. Hal ini bukan karena serangan dan invasi dari luar namun disebabkan konflik internal (di dalam keluarga kerajaan) yang tidak berkesudahan.

Kemudian pada perkembangannya, ancaman dari bangsa luar yang ingin menguasai kekayaan Indonesia datang silih berganti. Pelajaran yang bisa kita ambil dari  perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia adalah perjuangan yang parsial dan bersifat kedaerahan sama sekali tidak akan membawa kemenangan. Sebaliknya, tatkala seluruh kekuatan pemuda bersatu padu semenjak Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908 dan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, maka perjuangan nasional yang kokoh bisa dilandasi persatuan dan kesatuan hingga melahirkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Fakta-fakta sejarah tersebut mengingatkan kita kepada betapa dahsyatnya akibat dari konflik serta pula mengingatkan betapa pentingnya nilai persatuan dan kesatuan.

Ini sungguh menarik sekali setelah kita belajar dari sejarah sebagai guru terbaik jika kita kaitkan dengan beberapa fakta terkini yang sedang dialami. Misalnya, dengan cepatnya pertumbuhan jumlah penduduk dunia yang seperti deret ukur sedangkan ketersediaan pangang, air bersih, dan energi seperti deret hitung.  Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa Indonesia adalah negara yang kaya raya karena faktor geografis terletak di garis ekuator. Sayangnya, sumber daya alam yang tinggi masih belum diimbangi dengan sumber daya manusia dalam mengelolanya. Sampai detik ini, banyak negara lain yang iri dan ingin menguasai Indonesia. Bagaimana tidak? Coba bayangkan jika kamu menjadi presiden negara lain, saat rakyatmu tengah dilanda kesusahan dan kelaparan dimana-mana lalu melihat ada negara lain (baca: Indonesia) memiliki sumber daya alam melimpah namun justru sumber daya manusianya justru ter-ninabobo-kan, apa yang akan kamu lakukan? Lihatlah jauh ke depan, ini merupakan suatu potensi  yang mudah memicu kemunculan berbagai konflik baru, baik intra maupun antar bangsa sebagai akibat perebutan sumber pangan dan energi.

Permasalahannya adalah  perang kini tidak nampak seperti perang dahulu. Sifat perang  kini telah bergeser seiring dengan kemajuan teknologi. Adanya berbagai tuntutan kepentingan kelompok telah  menciptakan perang-perang jenis baru, seperti perang asimetris, perang hibrida dan perang proxy. Perang asimetris adalah perang antara pihak-pihak berperang dan sangat berbeda kekuatan militernya. Perang hibrida adalah perang yang mengombinasiakan teknik perang konvensional, perang asimetris dan perang informasi untuk mendapatkan kemenangan. Sedangkan perang proxy adalah dua kekuatan besar yang saling berkonfrontasi dengan mamakai pemain pengganti guna menghindari konfrontasi secara langsung untuk mengurangi resiko konflik langsung yang berisiko berupa kehancuran fatal. Dengan proxy war ini, semakin tidak dapat dikenali dengan gamblang antara lawan dan kawan. Proxy war di Indonesia sudah berlangsung dan telah diindikasi dalam beraneka bentuk, misalnya gerakan separatis, demonstrasi besar-besaran, penerapan regulasi yang merugikan, peredaran narkoba, bentrok antarkelompok.

Memang benar bahwa serangan proxy war datang bertubi-tubi, namun sebagai rakyat yang mencintai negara Indonesia maka kita harus menghadapinya. Ingatlah, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara patriot memiliki dua modal utama yang sangat kuat untuk menangkal setiap ancaman bangsa, yaitu modal geografi dan modal demografi. Wake up! Anugerah kekayaan alam hayati dan non hayati yang diberikan Allah swt. kepada Indonesia  sangat berpotensi  untuk dijadikan sebagai negara maritim sekaligus negara agraris telah lama menunggu kita untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tidak cukup sampai di situ saja, modal demografi berupa Pancasila dan kearifan lokal yang sangat kaya serta tentunya dengan kembali kepada nilai-nilai luhur bangsa Indonesia akan menguatkan ruh kita untuk melewati berbagai ancaman kedepannya. Sebagai tambahan, harapan masa depan Indonesia berada di pundak pemuda-pumudi Indonesia. Terlebih lagi, Indonesia akan memiliki bonus demografi, maka mari kita bahu-membahu antarkomponen bangsa  terutama para generasi emas untuk melaksanakan dan menuntaskan kewajiban yang diembankan dengan niat ikhlas untuk mengabdi kepada Ibu Pertiwi. Seperti yang sering diserukan Presiden Jokowi: Ayo Kerja! Ayo Kerja! Ayo Kerja! Presiden kita mengajak kita kerja bersama-sama untuk mewujudkan harapan bersama, yaitu merdeka dalam arti sesungguhnya untuk menjayakan Indonesia.

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda akan kuguncangkan dunia”.  ~ Ir. Soekarno.

NKRI adalah bagian dari hidup kita. Dirgahayu RI ke-71